Kalimantan Tengah
https://id.wikipedia.org/wiki/Kalimantan_Tengah
Kalimantan Tengah (disingkat Kalteng) adalah salah satu provinsi di Indonesia yang terletak di Pulau Kalimantan. Ibu kotanya adalah Kota Palangka Raya. Berdasarkan sensus tahun 2010, provinsi ini memiliki populasi 2.202.599 jiwa, yang terdiri atas 1.147.878 laki-laki dan 1.054.721 perempuan. Data BPS Kalimantan Tengah tahun 2021 menunjukkan penduduk provinsi ini tahun 2020 bertambah menjadi 2.670.000 (Laki-laki 1.385.700 jiwa dan perempuan 1.284.300 jiwa).[2] Kalimantan Tengah mempunyai 13 kabupaten dan 1 kota.
A.GEOGRAFI
Provinsi Kalimantan Tengah, dengan ibukota Palangka Raya, terletak antara 0°45’ Lintang Utara s.d. 3°30’ Lintang Selatan dan 111° s.d. 116° Bujur Timur. Provinsi Kalimantan Tengah merupakan provinsi terluas kedua di Indonesia setelah Provinsi Papua dengan luas wilayah mencapai 153.564 Km².
Provinsi Kalimantan Tengah memiliki 11 (sebelas) sungai besar dan tidak kurang dari 33 (tiga puluh tiga) sungai kecil/anak sungai, keberadaannya menjadi salah satu ciri khas Provinsi Kalimantan Tengah. Adapun Sungai Barito dengan panjang mencapai 900 km memiliki kedalaman mencapai 8 m, merupakan sungai terpanjang di Kalimantan Tengah sehingga dapat dilayari hingga 700 km.
B.LUAS DAN BATAS WILAYAH
Batas Provinsi Kalimantan Tengah di bagian utara yaitu sabuk pegunungan Muller Schwanner, paling tidak 52 bukit, dari ketinggian 343 meter yaitu Bukit Ancah sampai 2278 meter yaitu Bukit Raya. Bukit Batu Tatau dengan ketinggian 1652 meter paling ujung perbatasan Kalimantan Tengah - Kalimantan Timur. Titik tertinggi wilayah Kalimantan Tengah terdapat di Gunung Batu Sambang dengan ketinggian hingga 1660 Meter dpl.
Sebagai daerah yang beriklim tropis, wilayah Provinsi Kalimantan Tengah rata-rata mendapat sinaran matahari sekitar 59,52 % per tahun, dimana kondisi udara relatif cukup panas yaitu mencapai 34,9°C. Sementara rata-rata curah hujan per tahun relatif tinggi yaitu mencapai 2.808,86 mm.
C.SEJARAH
Menurut legenda suku Dayak yang berasal dari Panaturan Tetek Tatum yang ditulis oleh Tjilik Riwut mengisahkan orang pertama yang menempati bumi atau menginjakan kakinya di Kalimantan adalah Raja Bunu. Pada abad ke-14 Maharaja Supayaryanata, gubernur Majapahit memerintah di Kerajaan Negara Dipa (Amuntai) yang berpusat di Candi Agung dengan wilayah mandalanya dari Tanjung Silat sampai Tanjung Puting dengan daerah-daerah yang disebut Sakai, yaitu daerah batang sungai Barito, Tabalong, Balangan, Pitap, Alai, Amandit, Labuan Amas, Biaju Kecil (Kapuas-Murung), Biaju Besar (Kahayan), Sebangau, Mendawai, Katingan, Sampit dan Pembuang dengan kepala-kepala daerahnya masing-masing yang disebut Mantri Sakai (Kepala Distrik), sedangkan wilayah Kotawaringin pada masa itu merupakan kerajaan tersendiri.[6] Kerajaan Negara Dipadilanjutkan oleh Kerajaan Negara Daha dengan raja pertamanya Miharaja Sari Babunangan Unro miharaja= maharaja. Raja tersebut telah mengantar salah seorang puteranya yang bernama Raden Sira Panji Kesuma alias Uria Gadung (Uria= Aria) untuk memegang kekuasaan wilayah Tanah Dusun [atau Barito Raya] yang berkedudukan di JAAR – SANGGARWASI.
Sebelum abad XIV, daerah Kalimantan Tengah termasuk daerah yang masih murni, belum ada pendatang dari daerah lain. Saat itu satu-satunya alat transportasi adalah perahu. Tahun 1350 Kerajaan Hindu mulai memasuki daerah Kotawaringin. Tahun 1365, Kerajaan Hindu dapat dikuasai oleh Kerajaan Majapahit. Beberapa kepala suku diangkat menjadi Menteri Kerajaan.
Tahun 1520, pada waktu pantai di Kalimantan bagian selatan dikuasai oleh Kesultanan Demak, agama Islam mulai berkembang di Kotawaringin. Tahun 1615 Kesultanan Banjar mendirikan Kerajaan Kotawaringin, yang meliputi daerah pantai Kalimantan Tengah. Daerah-daerah tersebut ialah: Sampit, Mendawai, dan Pembuang. Sedangkan daerah-daerah lain tetap bebas secara otonom menjalankan hukum adat Dayak-Kaharingan, dipimpin langsung oleh para kepala suku, bahkan banyak dari antara mereka yang menarik diri masuk ke pedalaman. Di daerah Pematang Sawang Pulau Kupang, dekat Kapuas, Kota Bataguh pernah terjadi perang besar. Perempuan Dayak bernama Nyai Undang memegang peranan dalam peperangan itu. Nyai Undang didampingi oleh para satria gagah perkasa, di Tengah.antaranya Tambun, Bungai, Andin Sindai, dan Tawala Rawa Raca. Di kemudian hari nama pahlawan gagah perkasa Tambun Bungai, menjadi nama Kodam XI Tambun Bungai, Kalimantan Tengah.
D.DEMOGRAFI
Data Sensus Penduduk Indonesia 2010, dari 2.207.367 jiwa yang didata, tiga etnis dominan di Kalimantan Tengah yaitu Jawa sebanyak 21,68%, Banjar sebanyak 21,03% dan Dayak 20,42%. Sementara suku asal Kalimantan lainnya di luar Dayak sebanyak 26,67%.[28][29] Kawasan utama etnis Dayak yaitu daerah hulu dan pedalaman, Kawasan utama etnis Jawa yaitu daerah transmigrasi dan Kawasan utama etnis Banjar yaitu daerah pesisir, perbatasan Kalimantan Selatan dan perkotaan.
Suku Dayak adalah suku terbesar di Kalteng. Beberapa subetnis Dayak yang terdapat di Kalteng yaitu Ngaju (mendiami daerah aliran sungai Kapuas, Kahayan, Rungan Manuhing, Barito dan Katingan. ), Bakumpai (mendiami tepian daerah aliran sungai Barito ), Maanyan (mendiami bagian timur Kalteng seperti Barito Timur dan Barito Selatan), Ot Danum (mendiami daerah utara Kalteng), Siang Murung (mendiami Timur Laut Kalteng/Kabupaten Murung Raya), Taboyan (mendiami sepanjangan tepian aliran Sungai Teweh), Lawangan (mendiami bagian timur Kalteng/Barito Timur), Dusun (mendiami wilayah aliran sungai Barito dari Barito Selatan sampai Murung Raya), dan subetnis lainnya. Orang Dayak di Kalteng umumnya berprofesi sebagai petani dan pegawai pemerintahan.
Suku Jawa merupakan suku terbesar kedua di Kalteng . Di beberapa kabupaten, seperti Kotawaringin Barat, Seruyan dan Pulang Pisau, etnis Jawa adalah penduduk mayoritas. Orang Jawa di Kalteng umumnya berprofesi sebagai petani, pegawai, TNI/Polri, pedagang makanan dan pekerja tambang/sawit. Kesenian Jawa seperti kuda lumping, reog, wayang kulit dan bahasa Jawa masih bertahan di kantong-kantong transmigrasi di Kalteng. Besarnya proporsi orang Jawa di Kalteng karena banyaknya transmigrasi asal Jawa Tengah, Yogyakarta dan Jawa Timur yang masuk ke Kalteng.
Suku Banjar merupakan suku terbesar ketiga di Kalteng. Di Kalteng, orang Banjar banyak berada di wilayah perkotaan seperti Palangka Raya, Kotawaringin Timur, Kabupaten Barito Timur dan Kapuas yang berbatasan langsung dengan Kalimantan Selatan. Orang Banjar di Kalteng umumnya bekerja sebagai pedagang dan wiraswasta, sehingga kuliner, masakan dan bahasa Banjar cukup dominan di Kalteng. Berbagai upacara adat Banjar, seperti pada upacara pernikahan, kelahiran (tasmiyah), batamat Al Qur'an, baayun mulud dan sebagian kesenian Banjar, seperti sinoman hadrah dan maulid habsyi masih sering ditampilkan di Kalteng.
Suku Melayu merupakan suku terbesar keempat di Kalteng yang menempati pesisir Sukamara dan Kotawaringin Barat, perbatasan Kalimantan Barat juga sebagian wilayah di Kabupaten Lamandau. Melayu di Kalteng biasa disebut Melayu Kotawaringin atau Teringin yang adat budayanya tidak jauh berbeda dengan orang Melayu di Kalbar & Suku Banjar di Kalimantan Selatan.
Suku Madura merupakan suku terbesar kelima di Kalteng. Di Kalteng, orang Madura yang juga banyak berprofesi sebagai pedagang di pasar tradisional banyak mendiami daerah Kotawaringin Barat dan Kotawaringin Timur. Setelah konflik etnis tahun 2001, sebagian warga Madura sudah berangsur-angsur kembali ke Kalteng.
E.Agama dan suku bangsa
Agama yang dipeluk masyarakat Kalimantan Tengah berdasarkan data Badan Pusat Statistik Kalimantan Tengah 2010 dan 2020, yaitu:[32][33]
Nomor Agama Jumlah (2010) Konsentrasi (2010) Jumlah (2020) Konsentrasi (2020) Keterangan
Islam 1.643.715 74,31% 1.951.786 74,11% dipeluk oleh Suku Banjar, Jawa, Melayu, Madura, Sunda, serta sebagian Kecil Suku Dayak dan Batak.Kristen Protestan353.353 15,97% 439.018 16,67% dipeluk oleh sebagian besar Suku Dayak, Batak, Minahasa, Flores, Papua
Kristen Katolik58.279 2,63% 85.044 3,23% dipeluk oleh sebagian besar Suku Dayak, Batak, Minahasa, Flores, Papua
Hindu/Kaharinga11.149 0,50% 153.846 5,84% Kaharingan adalah kepercayaan suku Dayak Kalimantan Tengah yang pada Sensus 2010 digabungkan dalam kelompok Lainnya. Penganut Agama Kaharingan tersebar di daerah Kalimantan Tengah dan banyak terdapat di bagian hulu sungai, antara lain hulu sungai Kahayan, sungai Katingan dan hulu sungai lainnya.[34] Dan Kaharingan sudah masuk kedalam agama Hindu yang umumnya dianut oleh orang Bali
Buddha 2.301 0,10% 2.795 0,11% dipeluk oleh orang Tionghoa
Konghucu
414 0,02% 179 0,01% dipeluk oleh orang Tionghoa Lainnya 142.878 6,45% 890 0,03% Pada sensus tahun 2010, Kaharingan sebagai kepercayaan asli suku Dayak dimasukkan pada kategori lainnya. Namun, sensus 2020 memasukkan Kaharingan dalam kategori agama Hindu yang umumnya dianut oleh masyarakat Bali. Total 2.212.089 100% 2.633.558 100%
Komposisi Suku Bangsa di Kalimantan Tengah selengkapnya dapat dilihat pada tabel berikut :[28]
Nomor Suku bangsa Jumlah (2010)[28]
Konsentrasi (2010)
1 Asal Kalimantan (di luar Dayak)
588.650 26,67%
2 Jawa
478.434 21,68%
3 Banjar
464.260 21,03%
4 Dayak
450.682 20,42%
5 Melayu
86.322 3,91%
6 Madura
42.668 1,93%
7 Sunda
28.565 1,29%
8 Asal NTT
15.370 0,70%
9 Batak
12.324 0,56%
10 Bugis
8.040 0,36%
11 Bali
7.362 0,33%
12 Tionghoa
5.130 0,23%
13 Suku-suku lainnya 19.560 0,89%
Total 2.207.367 100,00%
F.Ekonomi
No Nama Pertumbuhan Ekonomi / Persen
1 2011 7,01
2 2012 6,87
3 2013 7,37
4 2014 6,21
5 2015 7,01
6 2016 6,35
7 2017 6,73
Ekonomi Kalimantan Tengah (Kalteng) pada 2016 tumbuh 6,37 persen dari tahun sebelumnya. Angka ini di atas pertumbuhan ekonomi nasional yang hanya tumbuh 5,02 persen. Ekonomi Kalteng selalu tumbuh di atas pertumbuhan ekonomi secara nasional. Provinsi dengan Ibu Kota Palangka Raya ini perekonomiannya pada 2017 ditargetkan tumbuh 7,5 persen, lebih tinggi dari target pertumbuhan Indonesia yang hanya sebesar 5,1 persen.
Isu pemindahan Ibukota dari Jakarta kembali mencuat setelah Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Bambang Brodjonegoro mengatakan bahwa pemerintah akan mengkaji pemindahan Ibu Kota dari Jakarta. Karena tidak rawan gempa maka Kalimantan yang diunggulkan. Untuk sementara calon yang muncul untuk menjadi Ibu Kota Negara adalah Palangka Raya.
Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku Kalteng pada 2016 mencapai Rp 112,44 triliun dari tahun sebelumnya Rp 110,22 triliun. Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan menjadi penyumbang terbesar perekonomian Kalimantan Selatan, yaitu 21,9 persen atau sekitar Rp 24,67 triliun. Diikuti industri pengolahan sebesar 16,33 persen atau sekitar Rp 18,36 triliun, dan perdagangan besar dan eceran 11,68 persen atau sekitar Rp 11,13 triliun
G.Pemerintahan
Artikel utama: Daftar gubernur Kalimantan Tengah
No. Foto Gubernur Mulai jabatan Akhir jabatan Masa Ket. Wakil Gubernur
1
R.T.A. Milono
1 Januari 1957 30 Juni 1958 1 [ket. 1]
—
2
Tjilik Riwut
30 Juni 1958 17 Februari 1967 2 [ket. 2]
Reinout Sylvanus
(1961—67)
3
Reinout Sylvanus
17 Februari 1967 3 Oktober 1978 —
4
Willy Ananias Gara
3 Oktober 1978 7 Oktober 1983 4
—
Eddy Sabara
7 Oktober 1983 23 Januari 1984 —
5
Gatot Amrih
23 Januari 1984 21 Januari 1989 5
Victor Phaing
6
Suparmanto
21 Januari
1989 23 Januari 1994 6 [36]
H. J. Andries
(1991–96)
7
Warsito Rasman
17 Juli 1994 Juli 1999 7
Elieser Gerson
(1996–99)
—
Rappiudin Hamarung
(Penjabat) Juli 1999 8 Maret 2000 —
Siswanto Adi
8
Asmawi Agani
8 Maret 2000 23 Maret 2005 8 [37]
Nahson Taway
—
Sodjuangon Situmorang
(Penjabat) 23 Maret 2005 4 Agustus 2005 — —
9
Agustin Teras Narang
4 Agustus 2005 3 Agustus 2010 9
(2005)
Achmad Diran
4 Agustus 2010 4 Agustus 2015 10
(2010)
— Hadi Prabowo
(Penjabat) 5 Agustus 2015 25 Mei 2016 — —
10 Sugianto Sabran
25 Mei 2016 25 Mei 2021 11
(2016)
Said Ismail
25 Mei 2021 Petahana
12
(2020)
Edy Pratowo
Keterangan
1. ^ Gubernur Pembentuk Provinsi Kalteng[35]
2. ^ Gubernur Kalteng Pertama - Babat Alas
H. Pariwisata
Pantai Ujung Pandaran
Jika Anda ingin berkunjung ke Kalimantan Tengah tak ada salahnya untuk berkunjung ke Pantai Pandaran yang memiliki pesona alam yang luar biasa indah. Banyak turis dari mancanegara yang datang berkunjung ke pantai ini untuk sekedar mengisi waktu liburan.
Hamparan pasir putih yang sangat luas ditambah dengan deburan ombak yang seolah membawa Anda untuk melupakan hiruk pikuk kota. Selain itu Anda juga bisa melihat langsung seperti apa upacara adat yang digelar di pantai tersebut.
Istana Kuning
Image Credit: Indonesia-az.com.
Selain pesona pantai, Kalimantan Tengah juga memiliki wisata sejarah yang istana kuning. Bukan berarti istana ini dibalut dengan warna kuning untuk semua bangunanya, namun hanya bagian gerbang saja yang berwarna kuning.
Bangunan peninggalan kerajaan di Kalimantan Tengah ini merupakan perpaduan berbagai budaya seperti Melayu, China dan Dayak. Hampir seluruh bangunan terbuat dari kayu ulin yang sangat kokoh.
Taman Nasional Tanjung Putting
Jika Anda berkunjung ke Taman Nasional Tanjung Putting,. Maka Anda akan menyaksikan secara langsung bagaimana orangutan yang masih berkembang biak dengan baik di taman tersebut. Anda bisa memberikan pakan ke orang utan yang telah disediakan seperti ubi, pisang, atau susu. Untuk bisa memiliki kesempatan memberikan makan ke orang utan, maka Anda bisa memilih tiga camp yang ada di wilayah tersebut.
Ketiga camp ini memiliki raja orangutannya masing masing dan jika sudah waktunya pemberian makan, maka raja tersebut aan muncul ke lokasi. Selain orang utan, taman nasional ini juga merupakan penangkaran untuk hewan lain seperti babi hutan, monyet, bekantan dan jenis makhluk hidup lainnya yang hidup berdampingan dengan taman nasional tersebut. Selain itu pengunjung juga berlindung di bawah pohon taman nasional yang menjulang tinggi.
I.Kebudayaan
Arsitektur Rumah Betang (Huma Betang) di Tumbang Anoi merupakan rumah panjang hunian komunal masyarakat suku Dayak Ot Danum di perhuluan sungai Kahayan.
Arsitektur Rumah Baanjung tipe Rumah Balai Bini di Kumai, yang merupakan hunian keluarga inti dalam rumah sendiri-sendiri pada masyarakat pesisir Kalimantan Tengah.
Perpaduan Rumah Betang dengan Rumah Baanjung menghasilkan Rumah Betang Ba'anjung (Huma Gantung) di Desa Buntoi.
Seni musik yang dikenal di daerah ini antara lain:
Chordophone
• Kacapi
• Rebab
• Dambus
• Sampe
Idiophone
• Berbagai jenis Gong
• Kangkanung
Membranophone
• Berbagai jenis Kendang (Gandang)
• Katambung
Seni vokal
Seni vokal yang populer di wilayah ini adalah:
• Pantun Seloka
• Karungut
• Kandan
• Mansana
• Kalalai Lalai
• Ngendau
• Barayah
• Natum
• Dodoi
• Marung
Tarian
Jenis-jenis tarian yang terdapat di daerah ini antara lain:
• Tari Hugo dan Huda
• Tari Putri Malawen
• Tari Tuntung Tulus dari Barito Timur
• Tari Giring-giring
• Tari Manasai
• Tari Balian Bawo
• Tari Balian Dadas
• Manganjan
• Tari Kanjan Halu
• Tari Deder
• Tari Mandau
• Tari Kinyah
• Tari Jepen Kotawaringin dan Sukamara
Seni Kriya
Seni kriya yang berkembang di wilayah ini adalah:
• Seni pahat patung Sapundu
• Seni lukis
• Rajah
• Anyaman
• Seni dari bahan Getah Nyatu
• Topeng Sababuka
Upacara adat
• Wadian
• Tampung Tawar (upacara menolak bala)
• Marumpak Kutamara (upacara menggiring pengantin lelaki menuju kediaman pengantin wanita)
• Upacara Tiwah (upacara memindahkan tulang belulang keluarga yang telah meninggal)
• Wara (upacara pemindahan tulang belulang keluarga yang telah meninggal)
• Balian (upacara pengobatan)
• Lawang Sekepeng (hampir serupa dengan Marumpak Kutamara)
• Potong Pantan (upacara peresmian atau penyambutan tamu kehormatan)
• Mapalas (upacara membuang sial atau membersihkan diri dari malapetaka)
• Ijambe (upacara pemindahan tulang belulang keluarga yang telah meninggal)
Pakaian pengantin
• Busana Pengantin Dayak
Busana pengantin pria Dayak Kalimantan Tengah memakai celana panjang sampai lutut, selempit perak atau tali pinggang dan tutup kepala. Perhiasan yang dipakai adalah inuk atau kalung panjang, cekoang atau kalung pendek dan kalung yang terbuat dari gigi binatang. Pengantin wanita memakai kain berupa rok pendek, rompi, ikat kepala dengan hiasan bulu enggang gading, kalung dan subang.
Rumah Betang muara bagok
Dalam motif pakaian, Busana pengantin Kotawaringin tampak memiliki kemiripan dengan Busana Pengantin Banjar.
I.Tokoh Terkenal
Dr. Agustin Teras Narang, S.H., M.H. (lahir 12 Oktober 1955) adalah Gubernur Kalimantan Tengah ke-12. Sebelum menjabat sebagai gubernur, ia dikenal sebagai politikus yang pernah duduk di Dewan Perwakilan Rakyat. Ia menggantikan Sodjuangon Situmorang yang ditunjuk sebagai pejabat sementara Gubernur Kalimantan Tengah.[1] Ia juga masih menjabat sebagai salah satu Teman Serikat Kemitraan bagi Pembaruan Tata Pemerintahan. Agustin Teras Narang juga pernah menjabat sebagai Ketua/Presiden Majelis Adat Dayak Nasional (MADN) periode 2010-2015.
Sebagai salah satu tokoh perintis dan pelopor lahirnya Provinsi Kalimantan Tengah, Tjilik Riwut sangat dekat dengan Soekarno, Presiden Repulik Indonesia yang pertama. Setiap Argumen yang disampaikan Tjilik Riwut dikisahkan selalu menarik perhatian Soekarno. Hal ini pula yang mendukung jalan Tjilik Riwut berhasil mengajukan pembentukan Provinsi Kalimantan Tengah.
Semasa hidupnya, Tjilik Riwut telah berkeliling pulau kalimantan dengan berjalan kaki dan menggunakan sampan, ini merupakan bukti kedekatannya dengan Hutan dan alam liar, ia bangga menjuluki dirinya sebagai orang hutan, tanpa ragu menerobos belantara kalimantan tanpa alas kaki. Selain itu Tjilik Riwut berjasa dalam aksi penerjunan pertama AURI pada 17 Oktober 1947 dan ia pula berjasa dalam mewakili sumpah setia suku dayak yang terdiri dari 142 suku dayak, 145 kepala kampung, 12 kepala adat, 3 panglima, 10 patih dan 2 tumenggung kepada Republik Indonesia secara adat di Gedung Agung, Yogyakarta.
Tjilik Riwut lahir di Kasongan tanggal 2 Februari 1918 di desa kecil kasongan, merupakan seorang putera daerah yang memperjuangkan tanah dan suku dayak sampai pada tingkat nasional. Perjuangan Tjilik Riwut pada jamannya memang patut di acungi jempol, karena ditengah segala keterbatasan saat itu, dia mampu mengejar ketertinggalan dan melewati segala rintangan yang ada. Bahkan kala itu ia mampu melanjutkan studinya di pulau jawa yang dulu mustahil untuk dilakukan.
Mantan Pejabat pertama Gubernur Kalimantan Tengah ini juga turut aktif menulis, kepiawaiannya dalam menulis diperolehnya ketika bergabung di Harian Pembangunan bersama Sanusi Pane, salah satu satrawan Indonesia. Salah satu karyanya “Maneser Panatau Tatu Hiang”, merupakan bentuk kecintaan dan keteguhannya tehadap budaya leluhur, karena baginya kebudayaan merupakan identitas yang harus dipelihara. Karya beliau juga banyak dituliskan kembali oleh salah satu anaknya, yaitu Nila Riwut yang juga aktivis kebudayaan dayak dan Pembina Mahasiswa/i Kalteng di Yogyakarta.(EAP/ Foto: Net)
K. Perguruan Tinggi Dan Pendidikan
No Nama Perguruan Tinggi Status
1 Akademi Keperawatan Pemkab Kapuas
Negeri
2 Akademi Keperawatan Pemkab Kotawaringin Timur Kalteng
Negeri
3 IAIN Palangkaraya
Negeri
4 Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang Palangka Raya
Negeri
5 Poltekkes Kemenkes Palangkaraya
Negeri
6 Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Tampung Penyang Palangka Raya
Negeri
7 STAIN Palangkaraya
Negeri
8 STAK Negeri Palangka Raya
Negeri
9 Universitas Palangka Raya
Negeri
10 Akademi Kebidanan Betang Asi Raya
Swasta
11 Akademi Kebidanan Muhammadiyah Kotim
Swasta
12 Akademi Keperawatan Yarsi Pontianak
Swasta
13 Politeknik Lamandau
Swasta
14 Politeknik Muara Teweh
Swasta
15 Politeknik Sampit
Swasta
16 Politeknik Seruyan
Swasta
17 Sekolah Tinggi Ilmu Bahasa Asing Palangka Raya
Swasta
18 Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Dahani Dahanai Buntok
Swasta
19 Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Kuala Kapuas
Swasta
20 Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Muara Teweh
Swasta
21 Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Palangka Raya
Swasta
22 Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Sampit
Swasta
23 Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Habaring Hurung Sampit
Swasta
24 Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Kuala Kapuas
Swasta
25 Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Tambun Bungai
Swasta
26 Sekolah Tinggi Ilmu Pendidikan Bunga Bangsa
Swasta
27 Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Palangka Raya
Swasta
28 Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Nur Ahadiyah
Swasta
29 Sekolah Tinggi Pertanian Pgri Buntok
Swasta
30 Sekolah Tinggi Teologi Dian Eka Sabda Kalimantan Tengah
Swasta
31 STAI Al-Ma`arif Buntok
Swasta
32 STAI Kuala Kapuas, Kalimantan Tengah
Swasta
33 STAI Siti Khadijah Muara Teweh Barito Utara, Kalimantan Tengah
Swasta
34 STIE YBPK Palangka Raya
Swasta
35 STIKES Borneo Cendekia Medika
Swasta
36 STIKES Eka Harap
Swasta
37 STIPAS Tahasak Danum Pambelum Keuskupan Palangkaraya
Swasta
38 STKIP Muhammadiyah Sampit
Swasta
39 STMIK Palangka Raya
Swasta
40 STT Permata Bangsa Barito
Swasta
41 Universitas Antakusuma
Swasta
42 Universitas Darwan Ali
Swasta
43 Universitas Kristen Palangka Raya
Swasta
44 Universitas Muhammadiyah Palangka Raya
Swasta
45 Universitas PGRI Palangka Raya
Swasta

.jpg)

























.jpg)
.webp)

.jpg)
